Rabu, 29 Maret 2017

PROLOG NOVEL DIVISION OF MUTATION RESEARCH

Alam telah rusak. Bumi telah kehilangan banyak untuk sekadar mempertahankan hidup manusia. Tapi seperti biasa, sebagian besar manusia kehilangan kata-kata terima kasih. Seakan hidup tanpa merusak adalah hal yang mustahil.
Kepunahan, ketidakstabilan, dan kelaparan mengancam seluruh manusia yang tak bersalah. Mereka, orang-orang yang mengejar kekayaan pribadi lupa bahwa mereka hidup di planet yang sekarat. Bahwa mereka sama sekaratnya dengan bumi.
Semuanya akan terlambat jika saja sekelompok pecinta alam tidak mulai bergerak bersama. Mereka, pecinta alam itu, memaksa seluruh negara menandatangani pakta perlindungan alam dan membentuk organisasi-organisasi dunia untuk melindungi bumi. Dan DMR, Division of Mutation Research, adalah salah satu di antaranya.
Puluhan tahun DMR menjaga keseimbangan alam dunia dari mutasi genetik. Puluhan tahun, DMR memperbaiki apa yang hampir mustahil diperbaiki. Hingga bumi mulai membaik. Hingga bumi kembali pulih dan hijau.
DMR telah menjadi Divisi penasehat yang mengubah banyak kemajuan teknologi menjadi ramah lingkungan meski harus berhadapan dengan jutaan orang-orang kaya berpangkat yang belum jera untuk merusak.
Dan Indonesia, negara dengan alam asri, tidak lepas dari agenda Divisi. DMR Indonesia dibentuk tiga puluh tahun yang lalu. Hasilnya, nama baik Indonesia sebagai paru-paru dunia tetap dipertahankan.
Namun masalah yang sama tetap muncul. Para politisi penjilat mulai membawa Divisi ke kancah politik. Orang-orang itu menjadikan Divisi sebagai alat kampanye meski dunia telah menetapkan DMR hanya organisasi pecinta alam. Tidak lebih.
Dua tahun sudah Divisi Indonesia di komandoi pemerintah. Sampai akhirnya Danil Guzman Riendra, dikenal dengan nama Dr D, yang berpangkat Ranger DMR, pimpinan tertinggi Divisi untuk satu negara, memilih untuk melepaskan diri dari politik. Sikapnya yang militer dan idealis membawa perubahan dalam tatanan sekaligus menjadikan Divisi tak tersentuh oleh politik. Namun untuk itu, dia menyerahkan kantor utama administrasi di Bogor pada Sub-Ranger. Sementara dia memilih fokus pada perkembangan alam pulau Sidentis.
Beberapa tahun berlalu. DMR Indonesia telah terjun memerangi ketidakharmonisan alam. Mereka telah tercatat sebagai Divisi yang membawa perusak lingkungan ke penjara terbanyak dalam sejarah kriminalitas alam Indonesia. Mereka dihormati, dipuja, dan bahkan dianggap sebagai kelompok pecinta alam terbaik yang pernah ada. Catatan dan arsip tentang pekerjaan mereka telah tertumpuk tidak hanya dalam lemari arsip, namun juga dalam benak masyarakat.
Namun orang-orang tidak menyadari bahwa yang mereka tahu tentang Divisi sungguh kecil. Ada banyak catatan tentang DMR yang tersembunyi dan terkunci rapat yang hanya diketahui oleh sebagian kecil staf sebagai satu-satunya cara untuk melindungi kota. Bahkan negara.
Satu di antara arsip itu adalah tentang seorang pemuda. Seorang pemuda misterius yang tidak jelas asal-usulnya, dan yang kehadirannya telah berpengaruh sangat dalam.
Semua itu diawali dengan dua kejadian di masa lalu.


+++++


Dua puluh tahun lebih sebelum saat ini.
Bogor. Pukul 19.20.
Sebuah mobil sedan melaju pelan di jalanan sepi pinggiran kota. Mobil itu lalu berbelok masuk ke pekarangan salah satu rumah dan berhenti tepat di depan pintu masuk. Lampu mobil dimatikan, dua orang pria membuka pintu, dan turun dari kursi depan tanpa bicara satu sama lainnya.
“Sekali lagi kau lakukan itu, kuhajar kau, Will,” kata pria yang turun dari kursi penumpang akhirnya dengan nada kesal. Dia tetap berdiri dan menatap lawan bicaranya dari balik mobil. “Jika saja bukan karena undangan makan istrimu, aku sudah pulang.”
William, pria yang turun dari kursi kemudi tertawa. “Owh, Come on, Dan,” katanya menenangkan  kekesalan Danil, rekannya itu, dengan logat Inggris. “Kamu hanya ketakutan. It was a drift. And I’m really good for it.”
“Aku benci kau.” Danil membanting pintu.
“You lie,” jawab William enteng menutup pintu.
Danil menatap William. “Aku benar-benar benci kau.”
“You lie. Again.”
Danil mendesah. “Baik, aku cinta kau, William.”
“Oke, stop it!” William bergidik. “Itu sangat menjijikan.”
Tawa mereka pecah. Dan mereka serentak berjalan menuju pintu rumah.
Namun, tiba-tiba langkah William terhenti. Tubuhnya mematung, tawanya hilang, dan ekspresi wajahnya menjadi tegang dan ketakutan.
Danil berani bersumpah tidak pernah melihat William seperti itu seumur hidupnya. Dia menatap wajah rekannya seksama seakan merasakan hal yang sama. “Will?”
“Dan.” Suara William pelan dan berat. Dia menahan satu perasaan dalam dirinya yang ingin meledak dengan tangan terkepal. “Please tell me you got a gun?”
Danil mengerti. Sungguh dia mengerti ada sesuatu yang tidak beres di dalam rumah.
Dia melihat apa yang ditatap William. Seketika itu, tubuhnya gemetar. Matanya menangkap cipratan darah di jendela kaca dalam rumah.
“Kunci mobil!” pintanya pada William.
William mengambil tergesa kunci dari dalam saku dan memberikannya pada Danil tanpa menoleh.
“Beri aku sepuluh menit,” kata Danil saat membuka pintu mobil. “Tolong jangan bertindak bodoh,… Will.”
William tak menjawab. Dia tetap diam menatap cipratan darah yang masih segar di sana tanpa berkedip. Hanya degup jantung yang keras yang menjawab kata-kata Danil.
Danil tidak membuang waktu. Dia menutup pintu dan menyalakan mobil dengan perasaan tak menentu. Dia menarik persneling dan memundurkan mobil terburu-buru. Lalu melaju kencang di sepanjang jalanan yang tadi dilaluinya dalam tawa dan canda.
Ya, Tuhan!
Ya, Tuhan!
Dia merogoh ponsel di saku celananya dan tergesa-gesa menekan nomor polisi untuk meminta bantuan.
Namun,
“AAAAKH….”
Ya, Tuhan!
William!
Ponsel terjatuh. Namun dia tak peduli dan membanting setir ke kanan untuk berbalik. Suara decit mobil terdengar seperti jeritan wanita tersiksa. Namun suara yang masih tersimpan dalam telinganya hanya teriakan William yang terdengar pilu dan dipenuhi kesakitan yang teramat. Sungguh, dia tidak pernah mendengar teriakan seperti itu seumur hidupnya. Dan tidak pernah terbayangkan sahabatnya akan berteriak sekeras itu.
William! William!
Jangan bodoh!
Jangan bodoh, kawan!
Pedal rem diinjak menciptakan bekas roda sepanjang jalan. Dia membuka pintu kasar, turun dari mobil, dan berlari masuk ke dalam rumah yang pintunya terbuka lebar.
“WIIILL!” panggilnya satu langkah sebelum kakinya menginjak lantai marmer yang berlapiskan karpet hijau. Dia tidak pernah panik seperti itu.
“WI….”
Ya, Tuhan!
Dia tidak akan percaya jika tidak melihatnya sendiri. Melihat satu tubuh wanita, istri William, yang berlumuran darah di atas karpet ruang tamu. Darah yang mengalir dari mulut, hidung, dan kening tubuh itu telah kering menghitam. Dia bersyukur setidaknya mata wanita malang itu tidak membuka karena akan membuatnya bermimpi buruk. Atau mungkin William yang menutupnya.
William?!
Dia teringat kembali tentang William.
William!
Dengan segala keberanian yang masih dimilikinya, dia masuk dan mencari dari kamar ke kamar. Tapi dia tidak menemukan pria Inggris itu. Dan tidak ada satupun tanda William masih berada di dalam rumah.
Dia keluar dan memandang ke segala arah berharap ada satu saja yang bisa memberinya petunjuk. Namun dia tidak mendapat apapun.
Rasa takut, panik, kalut, dan khawatir menyatu jadi satu mematikan akal sehatnya. Begitu mati hingga tidak menyadari sama sekali jejak darah di tanah bekas injakan sepatu William.
“WIIIIL,” teriaknya putus asa. Begitu putus asa.
Aku mohon, katakan dimana kau, kawan!
“WIIIL….”

+++++


Beberapa bulan sebelum saat ini.
Lolak. Sulawesi Utara. Pukul 23.40.
Seorang wanita berteriak histeris mengiba. Rumah susun berlantai lima tempat tinggalnya terbakar di hadapannya. Dia meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari banyak tetangga yang berusaha menahan dirinya. Namun tubuh kurus itu seakan menyimpan tenaga yang melimpah. Dia hampir saja mematahkan lengan satu pria yang mencengkram tangannya.
“Sabar, bu! Sabar, bu!” Begitu orang-orang mencoba menenangkan.
Namun histerisnya bukan karena harta benda. Bukan tentang emas perhiasan yang tersimpan di bawah bantal. Melainkan karena anak balitanya, yang dia tidurkan, masih tertinggal di dalam kamar sebelum kebakaran. Hanya anak itu satu-satunya harta yang berharga setelah suaminya meninggal kecelakaan. Sungguh, kehilangan dua anggota keluarga sama saja mati baginya.
Teriakan histerisnya mendadak terhenti berganti isak tangis kelegaan. Dia melihat seorang pria keluar dari gedung membawa seorang anak, anaknya. Pria itu menyerahkan anak kecil cantik itu kembali ke pelukannya. Tangannya tidak bisa berhenti bergetar saat menerima miliknya yang tersisa itu. Dan isak tangisnya semakin sesak saat anak kecil itu membuka mata dan tertawa kecil saat melihat wajahnya. Wajah sang mama yang tidak berhenti menciumi.
Dia ingin berterima kasih. Dia ingin berlutut bersimpuh di hadapan orang itu. Namun si penolong misterius telah kembali berlari begitu terburu masuk ke dalam gedung yang terbakar tanpa sedikitpun keraguan. Dan sejak itu dia tidak pernah lagi melihat sang penolong itu.
BRAAK….
Penolong misterius menendang pintu kamar di lantai tiga. Api belum menghanguskan tempat itu sama sekali dan itu sangat disyukurinya. Dia kemudian berlari kecil dan masuk ke dalam ruangan tempat tidur dimana seorang pria yang hanya mengenakan celana pendek duduk di tepi ranjang.
Pria yang duduk di tepi ranjang kumuh itu mengangkat kepalanya. “Aku tak percaya kau menemukanku.”
Penolong misterius itu tegak dan tak menjawab. Dia mengambil pisau panjang yang terselip di balik jaket basah yang telah diasahnya sedemikian tajam.
Pria itu bangkit saat kilatan pisau mengenai matanya, dan menatap balik. Sayangnya, api yang berada di belakang lawannya menciptakan siluet dan membuatnya sulit melihat raut wajah si pemegang pisau. Tapi dia tahu orang itu menggeram marah.
“Jadi, Saya lihat kau sudah siap untuk ini?”
“Ada kata terakhir?” Penolong misterius menggenggam erat pisau di tangannya. Dirinya sudah sangat gatal mencabik-cabik pria paruh baya di hadapannya.
“Ada,” jawab pria itu dengan tenang. Dia kemudian memejamkan matanya sedetik. “Saya minta maaf. Sungguh, saya minta maaf. Jujur saja, untuk semua yang sudah saya lakukan, kamu boleh membunuh saya.”
Penolong misterius itu mendengus dan memasang kuda-kuda untuk menikam. Tubuhnya condong ke depan bersiap jika saja dirinya diserang atau calon korbannya melarikan diri.
“Tapi,” lanjut pria itu tenang. Nada bicaranya tidak sedikitpun menunjukkan kekhawatiran meski sadar bahwa mungkin besok tidak akan melihat matahari lagi. Dia hanya melemaskan otot lehernya yang masih kaku. “Maukah kau mendengarkan sedikit saja dari semua yang aku tahu?”

Selasa, 12 Juli 2016

Quote 22 RH Arkim




Quote 21 RH Arkim




Quote 20 RH Arkim




Quote 19 RH Arkim




Quote 18 RH Arkim






Quote 17 RH Arkim




Kamis, 04 Februari 2016

PEMBAHASAN BUKU SAKTI UN GANESHA OPERATION 2015/2016 MAPEL FISIKA

Untuk adek-adek siswa/i Ganesha Operation, silakan download pembahasan Buku Sakti UN Ganesha Operation TA 2015/2016 mapel fisika disini.




Login ke 4Shared dengan  Facebook, Twitter, atau Gmail. Jika ada yang masih ragu, silakan di komentari.




Setiap soal mewakili soal lainnya. Kerjakan soal yang belum dibahas dengan mengacu kepada soal yang ada di buku pembahasan ini. Tanyakan kepada pengajar fisika GO jika ada yang masih meragukan.

Usahakan membuka link dengan PC, atau bisa juga dengan smartphone dengan tampilan desktop.


Terima kasih sebelumnya, insyaaALLAH bermanfaat.

RH Arkim


Kamis, 28 Januari 2016

WANITA ITU SERING LUCU

Nyuruh cepat pulang, tapi gak boleh kencang-kencang bawa motor.

Katanya lapar berat, tapi masih milih-milih apa yang mau dimakan.

Bilangnya 'jangan telpon-telpon lagi!', tapi nanti kecewa kalo gak dihubungi.

Curhatnya minta pendapat, pas dikasih pendapat dianggap gak pengertian.

Memaksa laki-lakinya hemat, tapi dia sendiri pengen belanja banyak.

Katanya medsos buat nambah teman, tapi yang diajak chat itu-itu aja.

Maunya emansipasi wanita, tapi kalau kesinggung dikit baperan.

Pengen laki-lakinya terlihat keren pas kerja, tapi takut nanti kegantengan.

Niatnya ngurangin gendut, tapi pas diingetin diet malah ngambek gak mau makan.

Dan semua itu akan selalu menjadi tawa untuk laki-lakinya yang baik dan pengertian. Bahwasanya semua kelucuan itu akan menjadi kenangan dan ledekan kecil yang akan membuat wanita pura-pura marah dibalik kebahagian mereka.

__ RH Arkim __


Syukur jika kekasihmu sering menuntutmu

Syukur jika kekasihmu sering menuntutmu untuk menjadi lebih baik dalam banyak hal. Karena itu salah satu pertanda keseriusan hubungan, dan pertanda dia mempersiapkanmu sebelum menjadi ayah/ibu nantinya.

Yang harus kamu khawatirkan adalah jika dia selalu menerimamu apa adanya. Bisa jadi karena dia tak terlalu peduli tentangmu, atau mungkin dia punya orang lain yang menutupi kekuranganmu.

__ RH Arkim __


"BAGUSAN MANA, IPA ATAU IPS BANG?"

"BAGUSAN MANA, IPA ATAU IPS BANG?"
================================


"Bang, bagusnya saya ngambil IPA atau IPS bang?"

"Keduanya sama bagusnya."

"Menurut abang?"

Saya diam sejenak sebelum berkata lagi untuk memilih kalimat yang akan mengubah pola pikirnya. "Sebenarnya, abang lebih suka anak IPS milih IPS karena tidak suka pelajaran IPA, dibanding anak IPA yang milih IPA karena merasa IPS tidak lebih baik ataupun anak IPA yang milih IPA karena ikut-ikutan."

"Kenapa gitu, bang?"

"Setidaknya anak IPS sudah tahu ingin menjadi apa, dan sudah tahu tidak ingin menjadi apa."

"Tapi kata orang, anak IPS tu anak-anak kurang baik bang."

Tersenyum kecil "Nah loh. Anak IPA yang bilang anak IPS itu kurang baik, sebenarnya sudah tidak baik. Orang baik tak pernah merendahkan orang lain."

"Gitu ya bang." Jawabnya sambil manggut-manggut. "Jadi, bagusnya saya milih apa bang? IPA atau IPS?"

(Dalam hati) Ni anak gak paham-paham juga ternyata. Mungkin dia terlalu sibuk ngejar nilai sampai lupa ingin jadi apa nantinya. Atau mungkin dia terkena stigma masyarakat awam tentang IPA dan IPS. 

__ RH Arkim __


KRITIKAN UNTUK PENDIDIKAN INDONESIA

KRITIKAN UNTUK PENDIDIKAN INDONESIA
==================================
__ RH Arkim __

Kurikulum Indonesia telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga yang dulu dimiliki oleh generasi lama. Yaitu kemampuan mengolah bakat siswa sejak masuk SMP agar mereka tahu akan menjadi apa, ataupun punya profesi yang bagaimana nantinya. Padahal berpuluh-puluh tahun yang lalu, para sarjana Indonesia mampu mendunia dan seringkali menjadi buah bibir masyarakat internasional. Namun sekarang, Indonesia hampir menjadi negara yang duduk selonjoran dengan tangan menengadah menunggu recehan negara lain.

Hampir setiap hari saya dihadapkan pada pertanyaan yang sama oleh hampir seluruh siswa saya,
"Dimana bagusnya saya kuliah bang?"
Bukankah itu aneh? Jika mereka saja tidak tahu akan kuliah dimana ataupun berprofesi apa, bagaimana saya bisa tahu? Saya bukan orang tua mereka yang merawat sejak bayi, ataupun cenayang yang mampu membuka cakrawala masa depan mereka. Dan itu membuat saya sering bingung dan kasihan karena saya sendiri hanya bisa mengarahkan, bukan memastikan.

Dan ini adalah beberapa hal yang menjadi kritikan besar saya untuk pendidikan Indonesia.

1. Pemerintah masih berpendapat bahwa jam belajar yang banyak tetap lebih baik dibanding kualitas pengajaran. Seolah-olah pemerintah menganggap makan nasi putih tiga piring sampai kenyang lebih baik dibandingkan nasi setengah piring yang ditambah lauk-pauk penuh gizi.

2. Penghargaan pada para guru masih minim yang menyebabkan banyak guru harus menambah penghasilan lain sehingga fokusnya terhadap pendidikan jadi berkurang.

3. Terlalu banyak memberikan perhatian pada pelajaran yang diUNkan sehingga mengabaikan aspek karakter seperti psikoligi, kreatifitas, budi pekerti, dan reliji.

4. Sangat sedikit memberikan informasi tentang perkuliahan ataupun keprofesian.

5. Kurikulum baru yang seolah-olah memaksa siswa mengerjakan tugas hingga puluhan soal tiap minggunya yang mengakibatkan siswa tak sempat mengembangkan hobi dan bakat.

6. Standar masuk perguruan tinggi masih berdasarkan nilai ujian dan rapor, bukan dari nilai gabungan antara IQ dan EQ.

7. Beberapa sekolah yang memiliki biaya pendidikan berbeda-beda dengan sarana/prasarana yang juga berbeda-beda sehingga sering muncul sistem kasta antar siswa.

8. Menyamakan standar ujian meski mengetahui bahwa setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda.

9. Pola pikir siswa yang tidak diarahkan bahwa program IPA ataupun IPS sama baiknya sesuai dengan minat. Agar paradigma masyarakat yang menganggap program IPS adalah untuk anak yang nilai rendah bisa terhapus.

10. Beberapa guru yang bersikap bukan sebagai pendidik, melainkan sebagai pelatih. (Baca selengkapnya di http://rharkim.blogspot.co.id/2015/02/dosa-sebagian-para-guru.html)

Dan masih banyak hal lain yang harus segera dibenahi sebelum generasi saat ini hanya akan menjadi generasi tanpa kreatifitas ataupun generasi penakut yang khawatir kecerdasan dan bakatnya hilang karena sistem yang kurang tepat sasaran.

With all of my respect, RH Arkim.

Menunggu itu melelahkan

Menunggu itu melelahkan. Namun disisi lain, menunggu akan mengajarkanmu untuk tegas memilih apakah tetap menunggu atau pergi duluan dengan seseorang yang juga sedang menunggumu.

Jadi jika kamu membuat seseorang menunggu terlalu lama, maka kamu tak punya hak untuk marah ataupun cemburu jika dia berhenti menunggu dan menjauh.

Alasannya, karena setiap orang punya hak untuk memilih yang terbaik untuk hidupnya. Sedangkan kamu? Kamu secara otomatis telah kehilangan gelar 'yang terbaik' menurutnya.

__RH Arkim__


NGAMBEK, DAN SEBUAH INDIKASI KETIDAKSETIAAN

Suatu waktu, seorang wanita bertanya pada saya tentang sikap suaminya padanya. Jujur saja, saya bukan seorang psikolog rumah tangga dan bahkan sama sekali tak pernah memimpikan hal itu. Namun dia tetap bersikeras agar saya membantunya dan mengatakan bahwa dia ingin mengumpulkan semua pendapat, baik oleh ahlinya maupun oleh amatiran seperti saya. Katanya lagi, dia tertarik dengan tulisan-tulisan saya tentang psikologi wanita. Berikut isi chat saya dengannya.

Saya : Jadi, bagaimana ceritanya menurut versi anda?
Wanita : Kok pake istilah 'versi anda'?
Saya : Wah, Anda yakin ingin tau alasannya? Tapi jangan tersinggung.
Wanita : Baik.


Saya : Wanita sering cerita dengan menambah prasangka di dalamnya. Agar terkesan dirinya adalah pihak yang selalu dirugikan.
Wanita : (Membaca chat saya, tapi tidak membalas selama beberapa saat.)

Saya : Jadi cerita?
Wanita : Gini aja deh. Saya gak jadi cerita. Nanya aja. Biar terkesan gak nambah-nambah. (Ada nada sindirian di dalam kalimatnya)
Saya : (Tersenyum dan mengangguk didepan komputer)
Wanita : Menurut abang, kenapa suami jadi sering telat pulang?


Saya : Ada tiga kemungkinan. Lembur, acara dengan teman-temannya, atau gak betah di rumah.
Wanita : Dia gak lembur. Dari yang saya dapat, dia sering main sama teman-temannya. Tapi masa sih tiap hari.


Saya : Terus? Apa yang anda pikirkan?
Wanita : Ini insting aku ya, bang. Kayaknya dia lagi dekat sama orang lain.
Saya : (Saat itu juga, saya berusaha memilah kata-kata) Sama wanita?
Wanita : Ya iya lah bang. Masa selingkuh sama pria?

Saya : Tunggu dulu. Saya gak bilang selingkuh. Yang saya maksud, anda merasa suami anda dekat dengan wanita lain?
Wanita : Iya.
Saya : (Berpikir sejenak) Kira-kira, apa yang menyebabkan dia dekat sama yang lain.

Wanita : Saya gak tau. Makanya saya nanya sama abang. Abang kan udah nikah. Kira-kira kalo abang, apa bang yang bikin abang dekat sama wanita lain?

Saya : Diandaikannya kok ke saya ya?
Wanita : Kan andaikan bang.

Saya : Saya mah, yang bikin saya jadi malas pulang dan dekat sama yang lain karena gak betah di rumah.
Wanita : Naah, itu dia bang. Emang saya kurang apa? Sampai dia gak betah di rumah?

Saya : (Tertawa kecil) Ntar... Ntar dulu. Kok jadi emosinya ke saya?
Wanita : Abisnya dia itu...
Saya : Gimana kalau saya bertanya balik. Apa yang sudah anda lakukan padanya.

Wanita : Banyak. Saya yang beresin rumah sebelum kerja dan pas pulang. Saya masakin makanan buat dia, banyak lah.

Saya : Kerjanya jam berapa? Pulangnya juga?
Wanita : Kerja jam delapan, pulangnya jam tujuh.
Saya : Capek nggak.
Wanita : Iya lah bang. Belum lagi banyak kerjaan di kantor. Makanya kadang saya kesal ma dia. Udah capek-capek gitu, tapi dianya gak ngerti. Sering minta ini itu. Makanya kadang saya ngambek dan malas bicara sama dia. Biar dia tahu kalau saya kecewa.
Saya : Hooo gituuu. Sekarang saya ngerti deh semuanya.

Wanita : Oh ya? Jadi gimana bang?

Saya : Anda pasti tahu hukum aksi-reaksi. Sikap anda itu seakan merupakan reaksi dari sikapnya. Padahal andalah yang melakukan aksi, dan dia yang melakukan reaksi.
Wanita : Maksudnya?

Saya : Ada dua alasan mengapa seorang suami lebih dekat dengan orang lain dibanding istrinya sendiri. Satu, memang ada yang salah dengan si suami itu. Dua, suami itu tidak mendapatkan haknya dari istri.

Wanita : Hak seperti apa, bang?
Saya : Mau yang paling sederhana dulu?
Wanita : Boleh.

Saya : Hak untuk merasakan kenyamanan rumah. Dan anda tidak memberikan itu. Anda selalu capek, gampang ngambek, kurang melayani suami, dan kalau boleh saya tambahkan, sering bawa-bawa urusan kerja ke rumah.

Wanita : Tapi kan saya kerja demi kebahagiaan keluarga. Lagipula, saya ini wanita karir.

Saya : Keluarga yang mana yang anda bahagiakan? Toh sekarang kebahagiaan keluarga sedang tidak anda rasakan.
Wanita : Terus saya harus bagaimana? Berhenti kerja?
Saya : Saya tidak menyarankan anda berhenti kerja. Yang saya sarankan hanyalah mengganti kerja anda. Pekerjaan yang tidak akan mengganggu kewajiban anda.


Wanita : Contohnya?
Saya : Tanyainnya jangan ke saya dong. Diskusikan itu dengan suami anda lah.
Wanita : Gitu ya?
Saya : Iyap. Saya khawatirnya gini, masalah anda dengan suami anda sekarang karena suami anda gak ridho sama pekerjaan anda. Makanya gak berkah.


Wanita : Tapi kan rejeki harus dikejar bang. Biar nanti anak-anak kami gak kekurangan.
Saya : Rejeki kan tidak harus uang. Kedamaian batin seperti pelukan suami saat pulang kerja itu sudah jadi rejeki kan?
Wanita : (Agak lama sebelum membalas) Baiklah, bang. Nanti saya coba diskusikan sama suami saya. Terima kasih ya bang. Assalamualaikum...
Saya : Waalaikum salam...


"Setiap aksi selalu menciptakan reaksi, dan itu hukum Tuhan yang difisikakan oleh Isaac Newton. Hanya saja, kadang orang yang merasa tidak bahagia sebagai reaksi dari aksi yang dilakukan orang lain tanpa pernah terpikir olehnya bahwa dialah sumber masalah sebenarnya."

__RH Arkim__


HAL UNIK TENTANG EMAK-EMAK

1. Kemampuan marketing emak-emak diatas rata-rata.
Emak-emak : Ni baju berapaan?
Penjual : 60ribu bu.
Emak-emak : 5ribu aja ya.
Penjual : (Merasa lelah dengan hidup)

2. Salah satu pilihan hidup yang berat adalah memilih untuk menyalip sebelah kiri atau kanan dari belakang emak-emak yang bawa motor. Apalagi kalau lampu sen emak-emak itu nyala.

3. Kalau emak-emak ngomel,
Yang rencananya mau dikatakan : Kamu itu tidak boleh begitu.
Yang akhirnya dikatakan : Kamu itu Jsgsjda kaysb hsyehsy. Gak tau aowuw jddbcjxu sgsu. Coba hshfwuwh ddbusb najsoq. Dasar anak uwosyshg hhdysy. Heh, dengar ya, sagjav hfahw usgsv hsus ysvsu. Dulu kjhskf khasdsh.

4. Kamu gak sengaja kesenggol emak-emak sensitif yang jago silat? Mending bersimpuh minta maaf sebelum bonyok.

5. Tanding cerdas cermat sama emak-emak.
(Ronde 1) Giliran kamu bicara.
(Ronde 2 sampai infinity) Giliran emak-emak yang bicara.

6. Emak-emak kalau ngobrol ma emak-emak lain, semuanya bisa berkaitan.
"Eh, si Rini udah kawin loh. Ngomong-ngomong soal kawin, kambing Buk Bar poligami ya. Kabar-kabarnya si Anto jadi polwan. Polwan yang disana ntu sok tahu. Tahu goreng Pak Sidi hambar gak ada rasa. Rasa-rasanya mau ujan badai. Badai Kerispatih udah bikin band baru. Barungsai di China beda ya sama disini. Disini ada setan ntu judul sinetron jadul. Judul sinetron apa tu yang ada harimau-harimaunya. Kayaknya hari mau ujan deh."

7. Sesangar-sangarnya preman tawuran, gentar juga kalo lawannya emak-emak bawa sapu lidi.

8. Hipotesa ahli fisika : Bumi itu bulat.
Hipotesa emak-emak : Bumi itu datar
Hipotesa orang fisika : Kayaknya bumi itu datar.

9. Anak muda yang salah, emak-emak ngomong "Dasar gak tahu sopan santun sama orang tua." Anak muda kemudian minta maaf
Emak-emak yang salah, emak-emak bakal ngomong "Yaaa, salahin saja terus orang tua." Anak muda kemudian minta maaf.

Tapi meski begitu, emak kita adalah wanita terbaik. Dia adalah harta yang takkan terganti oleh ayah, istri/suami, ataupun guru. Dan percayalah, suatu ketika nanti setiap anak akan merindukan omelan emaknya.

__RH Arkim__


"Yakin ingin menjadikan pengasuh sebagai cinta pertama sang anak?"

Seorang siswi pernah berkata pada saya, "Bang, saya rencananya nanti nikahnya pas umur 30 tahun. Mau karir dulu sampai banyak tabungan baru nikah. Ntar kalo dah banyak tabungannya, bisa bikin usaha ndiri. Kan nikah tu gampang aja bang."

Saya sedikit tersentak, namun dengan cepat menjawab untuk membantahnya, "Nikah mah emang gampang. Tau susahnya apa?"

"Apa bang?"

"Mencari laki-laki yang baik, yang karirnya menjanjikan, yang sholeh, yang menyayangi keluarga, yang setia, dan -- yang terpenting -- mau nikah sama wanita pengejar karir berumur 30 tahun."

Siswi saya sedikit terhenyak dengan pernyataan saya, namun masih mencoba membela diri, "Terus, ngapain kuliah, bang, kalau ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga?"

Saya menjawab, "Ada perbedaan yang nyata antara wanita berpendidikan dengan tak berpendidikan dalam pendamping suami dan merawat anak. Istri yang berpendidikan selalu mencari solusi saat keluarganya ditimpa masalah, bukan mencari-cari kesalahan suami. Ibu yang berpendidikan akan menjadi ensiklopedia bagi anaknya, bukan menjadi ibu yang selalu marah-marah saat anaknya kepo."

"Sepenting itu ya bang?" Katanya lagi. "Tapi kan ada pengasuh bang yang bisa membantu merawat anak?"

"Yakin mau jadikan pengasuh sebagai cinta pertama anak nantinya? Nanti jadi blunder."

Siswi saya terdiam sejenak. Saya melihat ada keinginan untuk membantah. Tapi beberapa saat kemudian dia mengangguk pelan. Dan itu sudah cukup bagi saya untuk membuatnya memahami pentingnya peran seorang ibu, meski saat ini dia maskih berseragam putih abu-abu.

Saya menasehati di akhir obrolan. "Mungkin adek merasa karir sangat penting bagi wanita. Tapi pria yang baik lebih menginginkan istri yang akan menjadi manajer untuk rumah dan anaknya. Bukan istri yang akan menjadi manajer untuk perusahaan dan anak orang lain."

__ RH Arkim __


Orang baik itu ...

Orang baik itu,
belum bisa dikatakan baik sebelum kebaikannya menjadi fitnah buruk yang secara sangat tajam menusuk harga diri hingga melelahkan keinginannya untuk tetap bersikap baik dan mengikis keikhlasannya untuk tetap berlaku baik.

Percayalah! Niat yang tulus itu takkan dipertanyakan. Karena orang baik yang murni berjiwa baik hanya bisa terlihat dari ketenangannya untuk tidak membalas hujatan, dan dari kerendahan hatinya untuk tetap tersenyum meski dunia seolah-olah takkan berlaku baik lagi padanya.
(Kudedikasikan ini untuk anda, orang baik yang tidak diperlakukan baik.)


SOAL-SOAL UJIAN FISIKA YANG BIKIN GALAU

SOAL-SOAL UJIAN FISIKA YANG BIKIN GALAU


1. Degup jantung Panjul mengencang dengan Amplitudo 2 cm dan frekuensi getaran jantung Panjul 120 Hz saat Susi berkata padanya "Maaf, kita tak bisa lagi bersama. Aku sudah punya cowok lain yang lebih ganteng, lebih tajir, dan lebih tinggi dari kamu. Kita putus saja ya!". Tentukan persamaan simpangan yang terjadi!

2. Pada suatu hari, Panjul melihat mantannya, Susi, di kejauhan. Panjul mengejar dan memanggil Susi dengan laju 72 km/jam dan frekuensi 500 Hz. Karena Susi ketakutan nanti diajak balikan, Susi kabur dengan laju 90 km/jam meninggalkan Panjul yang terus mengejar dan mengiba-iba. Berapakah frekuensi yang didengar Susi?

3. Saking galaunya, Panjul berlari lurus sekuat tenaga diatas gedung setinggi 80 m dengan laju 36km/jam menghindari bayang-bayang kenangan mantan di belakangnya yang terus mengejar. Jika dia terus berlari hingga melompat dari gedung tersebut sampai ketanah, berapakah jarak mendatar yang dicapai Panjul?

4. Rasa sakit hati Panjul bertambah saat teman-teman dan keluarganya mensyukuri putusnya dia dengan Susi. Sebagian bahkan melakukan sujud syukur dan sebagian lagi mengadakan pesta meriah. Jika kemudian Panjul menyetrum dirinya dengan listrik bertegangan 220 Volt dan arus 3 Ampere selama 24 jam. Tentukan Daya dan Energi listrik!

5. Sinar kehidupan di mata Panjul mulai meredup saat menerima undangan nikahan Susi dengan pacar barunya itu. Dengan sisa-sisa hidupnya (yang sebenarnya tidak terlalu bermanfaat sih), dia menyalakan senter bercahaya kuning dengan panjang gelombang 600 nm yang kemudian di tempelkan ke matanya agar terang kembali. Berapakah frekuensi cahaya senter tersebut?

__ RH Arkim __


"IRA KASIHAN SAMA TEMAN-TEMAN."

Suatu ketika, di dalam bus TK yang berisi beberapa anak yang akan diantarkan pulang.

"Papaku kemarin pulang dari Singapur loh." Sati mengangkat tangan kanannya dan memamerkan gelang hijau dengan beberapa hiasan permata plastik kepada teman-temannya. "Trus Ati dikasih gelang ini sama papa. Bagus kan?"

"Waaah. Lucuuu!" Sahut Riane yang duduk disebelah kiri Sati sambil mengelus gelang milik Sati itu dengan perasaan kagum.

"Sayangnya, papa harus balik lagi ke Singapur nanti malam. Gak tau kapan pulangnya."

"Tapi papamu hebat loh." Timpal Tika di depannya yang menoleh kebelakang. "Kerjanya diluar negeri. Wuiiis..."

"Ayah Ane juga hebat." Riane tidak mau kalah. "Ayah kerjanya di Bank. Tiap hari pake dasi. Keren deh. Sekali dua bulan ayah ngajak Bunda sama Ane ke pantai."

"Kok cuma sekali dua bulan?" Tanya Sati.

"Abisnya ayah sibuk sih. Kadang-kadang hari minggu kerja."

"Kalau papaku lain lagi." Tika memperbaiki posisi duduk dan menghadap kebelakang sepenuhnya. "Papaku pejabat. Temannya polisi loh. Hampir tiap hari ada teman papa yang polisi datang ke rumah trus ngobrol-ngobrol sama mama nanyain kerjaan papa. Kadang papa muncul di TV main borgol-borgolan sama teman-temannya."

"Mau dooong muncul di TV." Hampir serentak Sati dan Riane berkata.

"Iya doong." Tika semakin bangga. "Tapi kasihan si Ira."

Ira yang duduk disebelah kiri Tika sedikit terkejut saat namanya dbawa-bawa. "Memangnya kenapa dengan Ira? Kok kasihan?" Tanyanya.

"Abisnya ayah Ira cuma peternak sih." Jawab Tika. "Gak sekeren orang tua kita-kita."

Ira hanya tersenyum.

"Pasti pulangnya bau." Kata Riane.

"Trus gak pernah dibeliin oleh-oleh dari luar negeri. Ya kan?" Sati ikut menimpali.

Sekali lagi, Ira hanya tersenyum. Dan dia terus ersenyum meski teman-temannya masih membicarakan tentang ayahnya yang seorang peternak. Hingga bus yang ditumpanginya berhenti di sebuah peternakan tempat ayahnya bekerja.

Ira turun dari bus dan melambaikan tangan pada teman-temannya. Setelah bus menjauh, dia berbalik dan berjalan cepat ke kantor kecil yang agak kumuh di sebelah pintu masuk peternakan.

"Loh loh loh loh. Anak ayah udah pulang toh?" Sambut ayahnya yang sedang sibuk menulis diatas buku tebal panjang. Ayahnya bangkit dan langsung menggendong Ira. Kumisnya yang agak lebat dan mendarat dipipinya membuatnya tertawa cekikikan.

"Duduk dulu ya sayang. Ayah mau nulis dulu bentar." Sang ayah mendudukkannya ke atas kursi empuk tepat didepan mejanya.

"Permisi, pak." Seseorang mengetuk pintu yang terbuka dan langsung masuk tepat seteah ayahnya duduk kembali. "Ini laporan penjualan kita hari ini." Katanya sambil menunjukkan selembar kertas HVS.

"Bacakan saja, Jo!" Perintah ayahnya.

"Yang terjual hari ini tiga belas kambing, dua sapi, 127 ekor ayam, 692 telur ayam, dan 308 telur bebek."

"Hmm. Agak berkurang ya dibanding kemarin."

"Benar pak. Tapi beberapa langganan kita akan datang sore ini untuk membahas kerjasama. Sekitar jam empat. Mungkin akan ada pembelian."

"Baik. Kamu boleh kembali."

Pria yang bernama Jo itu keluar dari ruangan setelah mengangguk hormat dan menepuk pelan kepala Ira.

"Sayang mau makan apa? Ayah beliin ya." Tanya ayahnya.

"Nanti saja, yah. Di rumah." Jawab Ira. "O iya, yah. Minggu jadi kan kita liburan ke Malaysia?"

"Jadi dooong. InsyaaALLAH jadi."

"Terus minggu depannya ke Raja Ampat kan?"

"Hahaha, iya iya sayaaang. Kan tiap minggu kita jalan-jalan sekeluarga."

Ira kembali tersenyum, tapi kali ini lebih lebar dibanding tadi.

Ayahnya menjadi sedikit heran melihatnya yang tersenyum penuh arti. "Ira kenapa? Kok dari tadi senyum-senyum aja? Ada yang dirahasiain ya?" Selidik ayahnya.

"Gak kok, yah." Ira turun dari kursi dan berlari kecil ke pangkuan ayahnya. "Ira senang banget sama ayah. Tapi juga kasihan sama teman-teman."

__ RH Arkim __