Sabtu, 06 Desember 2014

Jika Nasi Sudah Menjadi Bubur

Suatu waktu. Tercipta satu percakapan antara dua remaja, yang salah satunya gelisah dan galau karena menaruh hati pada seorang lawan jenis yang mengabaikan dirinya...

Sahabat : Jika kamu tahu mencintainya itu sakit, kenapa kamu masih mempertahankan rasamu?

Galau'er : (membela diri) Jika kamu tahu kamu akan mati, kenapa kamu tetap bernafas?

Sahabat : Setidaknya bernafas tidak membuatku sakit hati, aku masih bisa tertawa, masih bisa menciptakan senyum untuk orang tuaku, masih bisa bekerja, dan masih bisa bersikap ramah pada orang lainnya.. Sedangkan kamu. Lihat dirimu...

Galau'er : (Terdiam sejenak) Kawan, tolong katakan apa yang berubah dalam diriku.

Sahabat : Kamu... Kamu menolak saran orang dan bersikap apatis pada kepedulian mereka. Kamu selalu berwajah murung dan mengacaukan mood orang-orang di dekatmu. Kamu terlalu sensitif dan marah-marah pada lingkungan, termasuk pada keluargamu. Dan yang terburuk, kamu berusaha membenarkan kebodohanmu itu dengan mengupdate status, mempublish tangisan, dan meminta belas kasihan orang yang sama bodohnya dengan kamu.

Galau'er : Lalu, apa yang harus aku lakukan? Nasi sudah menjadi bubur. Aku terlanjur jatuh cinta padanya.

Sahabat : Jika memang nasi sudah menjadi bubur, kenapa kamu tidak berpikir untuk menambahkan berbagai macam bumbu agar rasanya lebih enak dari nasi? Kenapa kamu masih menelan bubur mentah yang selalu membuatmu mual dan muntah tiap kali menelannya?

Galau'er : Kamu gak tahu sakitnya perasaanku. Kamu gak pernah mengerti seberapa besar luka ini kan?

Sahabat : Kamu gak pernah tahu sakitnya seorang anak yang melihat jenazah orang tuanya didepannya kan? Kamu gak pernah tahu sakitnya seorang cacat saat dianggap sebagai sampah masyarakat kan? Kamu gak pernah tahu sakitnya gelandangan saat melihat orang lain pulang kerumah dan bercanda tawa dengan keluarganya? Dan kamu gak pernah tahu sakitnya seorang pria yang terpaksa mencari makan di tong sampah kan? Tapi kamu dengan anehnya merasa sebagai orang paling menderita dan menghujat dunia hanya karena berharap pada seseorang yang sama sekali tidak memberi harapan padamu.

Galau'er : (Terdiam dan mulai menangis) Bantu aku kawan, aku tak tahu aku sebodoh itu.

Sahabat : Kamu bisa bantu dirimu sendiri. Pulanglah, dan kembalikan keceriaanmu di depan keluargamu, dihadapan teman-temanmu, dan dihadapan dunia.

Bukittinggi, 6 Desember 2014. With All of My Respect, RH ArKim.


Selasa, 04 November 2014

Terkadang, Orang digagalkan...

Terkadang...
Orang digagalkan, ditutup jalan usaha, dan tertekan diposisinya, untuk membelokkannya pada arah yang lebih menguntungkan jiwa dan pikirannya. Dan untuk mengingatkannya bahwa arah yang dia pilih tidak berakhir bagus untuknya...

Namun, selalu saja ada orang yang memaksa menembus dinding, dinding yang sudah diberitakan padanya bahwa itu bukanlah untuknya. Yang bahkan meski tubuhnya terluka, jiwanya tersiksa, dan waktunya terbuang, dia masih belum menoleh ke petunjuk jalan berikutnya.

Hingga saat itu tiba, dia menangisi dan menyesali kebodohan demi kebodohan yang diperbuat dan mulai membelok. Padahal saat itu, fisik dan mental tidak lagi mendukung. Dan meski dia menangis darah, waktu tidak akan berbalik untuk menopangnya.

Apapun di masa depan, adalah pilihan. Dan apapun yang kau pilih, adalah hidupmu.

Bukittinggi, 4 November 2014. With All of My Respect, RH ArKim


Minggu, 26 Oktober 2014

3 ALASAN PENDERITAAN

Ada 3 alasan sederhana jika ada yang bertanya 'Mengapa Hidupku Penuh Tekanan dan Masalah yang Menderitakan?'

  1. Salah memilih keputusan, tapi sangat keras kepala dan memilih untuk tetap pada pilihan salahnya tanpa berbalik dan mengubah keputusannya. Orang seperti ini seringkali menenangkan jiwanya dengan alasan 'Indah Pada Suatu saat nanti'' yang dia sendiri sebenarnya tidak yakin kapan akan terjadinya. Seperti 'menggenggam mawar indah berduri yang melukai tangan, padahal aromanya telah lama hilang'.
  2. Doa dan harapannya sangat tinggi yang jika dibandingkan dengan kondisinya sekarang masih sangat dibawah 'kemungkinan'. Karena TUHAN tak pernah menolak permintaan, DIA akan mengabulkan semuanya, SEMUANYA, dengan satu syarat, yaitu 'Kepantasan'. Sederhananya, seorang anak kecil akan sangat Sok ketika tiba-tiba diberi uang jutaan. Namun, akan sangat bijak ketika uang itu didapat dari hasil Kesusah-payahannya menabung.
  3. Tuhan mempersiapkannya untuk sesuatu teramat penting yang dibutuhkan oleh alam, oleh negara, oleh manusia, dan oleh apapun yang memang ditakdirkan untuknya. Bahwa semua tekanan hidup, kesakitan, kegalauan, dan penindasan yang diterimanya hanya untuk mengajarkannya semua perasaan yang menyedihkan dan mengajarkannya kemampuan untuk menjadi 'Orang yang Mampu Menopang Beban Dunia'.

Padang, 26 Oktober 2014, With All of My Respect. RH ArKim


Kamis, 18 September 2014

PIMPINAN, ANTARA IMEJ DAN TANGGUNG JAWAB

Seseorang pernah mengingatkan temannya :

"Kamu adalah pimpinan, harus bisa jaga imej, dan tunjukkan bahwa kamu pimpinan. Jangan bertindak seperti anak yang masih remaja dan jangan biarkan bawahanmu lupa bahwa kamu pimpinan."

Tahukah apa jawabannya?

"Maaf kawan...
Jika posisi pimpinan membuat saya harus menjaga jarak dengan siswa saya, membuat saya harus selalu memasang label 'pimpinan' dalam setiap gurau dan tawa, serta membuat sahabat-sahabat saya jadi segan dan ragu saat bercanda, dengan senang hati saya akan membuang prediket pimpinan...
Orang-orang yang menghargai saya sebagai sahabat, sebagai saudara, sebagai rekan, dan sebagai keluarga, jauh lebih penting dari pangkat dan posisi. Membuat mereka tertawa dan senang atas kehadiran saya jauh lebih utama daripada membuat mereka harus menundukkan kepala saat bertemu dengan saya...
Tidak ada pangkat apapun yang menarik saya untuk dikejar, karena kepemimpinan bukanlah Kebanggaan, Melainkan Tanggung Jawab. Tanggung Jawab besar yang sering disalahartikan sebagai posisi, karena kepemimpinan tidak hanya mengangkat, tapi juga membuatmu menjadi 'pelayan' untuk mereka...
Kawan...
Saya lebih suka hadir sebagai pencipta suasana riang daripada penimbul kondisi kaku. Saya lebih suka mereka tersenyum dengan ikhlas walau tipis daripada tertawa keras namun dipaksakan. Saya lebih suka duduk di kursi kayu diantara mereka daripada menjauh dan duduk di sofa empuk sendirian...
Tidak akan buruk hidup saya, selama meraka ada di depan, disamping, dan dibelakang saya, dan tidak ada yang paling saya khawatirkan selain Kesendirian karena rasa angkuh dan kebanggan akan posisi kepemimpinan...
Terima kasih nasehatmu kawan, tapi saya tahu apa yang paling membuat saya bahagia..."

Padang, 16 September 2014


TERKADANG, WANITA BENAR-BENAR TIDAK TAHU APA YANG SEBENARNYA MEREKA INGINKAN

Terkadang, wanita benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan. Seringkali apa yang mereka katakan bukanlah yang ada dalam jiwanya, apa yang mereka lakukan bukanlah yang mereka sukai, apa yang mereka pikirkan bukanlah yang mereka cita-citakan. Dan ketika wanita mendapatkan yang mereka katakan 'suka', kadang muncul rasa ketidakpuasan seolah-olah ada kata-kata 'bukan ini yang aku mau.'

Dan dengan semua hal itu, semua wanita selalu meminta prianya untuk memahami dan mengertikan apa yang sebenarnya mereka inginkan. Hingga tak jarang kalimat 'kamu gak pernah mengerti aku' atau 'Ya udah, terserah' terucap dari bibir mereka dengan wajah yang penuh pengharapan akan dipahami.

Tidak akan ada pria yang tidak bingung, dan takkan ada pria yang mengerti 100%. Namun juga, tidak akan ada pria yang sangat mempesona dan memikat bagi wanita selain pria yang tetap bertahan dalam sabar dan senyum terhadap keegoisan wanita yang seringkali menjadikan prianya sasaran kekesalan.

Bukittinggi, 27 Agustus 2014


WANITA ITU, LUAR BIASA YAH...

Wanita itu, luar biasa yah...
Mereka bertubuh lebih lemah dari pria, tapi tidak ada dan takkan ada pria yang menolak mengakui pengaruh wanita dalam sukses dirinya.

Wanita itu, luar biasa yah...
Senyum kecil dan 3 butir air mata mereka saja sanggup mendinginkan amarah meledak-ledak seorang pria dan mengubah ukiran kekesalan diwajah pria menjadi sejuk.

Wanita itu, luar biasa yah...
Sanggup mengerjakan pekerjaan paling membosankan sedetil mungkin yang paling anti dikerjakan oleh pria yang terkenal pembosan, karena besarnya rasa tanggung jawab mereka.

Wanita itu, luar biasa yah...
Semarah apapun mereka pada orang yang mereka sayangi, tetap saja tidak ada kebencian dalam jiwa mereka. Dan hanya butuh satu kata 'maaf' dari pria untuk memaafkan.

Wanita itu, luar biasa yah...
Satu usapan kecil pada luka anak kecil yang menangis dan meraung, sudah cukup untuk mengurangi tangisannya dan menenangkan hati si anak kecil.

Wanita itu, luar biasa yah...
Pendengar terbaik atas semua keluhan dan kegalauan orang lain yang bahkan ikut menangis bersama-sama yang pastinya menyamankan si pengeluh.

Wanita itu, luar biasa yah...
Sayangnya kebanyakkan mereka tidak menyadari 'keluar biasaan' mereka...

Bukittinggi, 21 Agustus 2014


TUHAN, SUDAH MERDEKAKAH KAMI

TUHAN... Sudah merdekakah kami?!
Kami punya segudang harta di tiap inci tanah yang sungguh jika dibagi sama rata, takkan ada yang meminta-minta dijalanan dan takkan ada yang merendahkan diri dihadapan dunia sebagai pembantu. Tapi yang makin kaya justru orang asing.

TUHAN... Sudah merdekakah kami?!
Bangsa lain tetap bernafas yang dihembuskan oleh hutan di pulau kami, hingga jika itu hilang lenyap, seluruh dunia terancam mati. Tapi justru kami yang seolah-olah bergantung pada mereka.

TUHAN... Sudah merdekakah kami?!
Dengan segala hasil bumi dan laut yang menimbulkan kecemburuan dan kedengkian bangsa lain, harusnya kami menjadi raja di dunia. Tapi kami terjebak sebagai budak yang terpatri oleh konsumtifnya jiwa kami.

TUHAN... Sudah merdekakah kami?!
Begitu banyak orang-orang berhasil di negeri kami yang sungguh-sungguh kami butuhkan sebagai pelopor, motivator, dan inspirator. Tapi kami begitu bodohnya tidak menghargai mereka hingga mereka didamaikan oleh negara lain yang akhirnya maju pesat.

TUHAN... Sudah merdekakah kami?!
Orang baik dan jujur masih teramat banyak dan selalu berani menentang ketidakadilan. Tapi mereka dianggap kuno, dianggap perusak, dianggap rendahan, dan bahkan disingkirkan.

TUHAN... Sudah merdekakah kami?!
Jika belum, TUHAN... Tolooong, merdekakan kami.

Bukittinggi, 17 Agustus 2014