Ada 3 alasan sederhana jika ada yang bertanya 'Mengapa Hidupku Penuh Tekanan dan Masalah yang Menderitakan?'
- Salah memilih keputusan, tapi sangat keras kepala dan memilih untuk
tetap pada pilihan salahnya tanpa berbalik dan mengubah keputusannya.
Orang seperti ini seringkali menenangkan jiwanya dengan alasan 'Indah
Pada Suatu saat nanti'' yang dia sendiri sebenarnya tidak yakin kapan
akan terjadinya. Seperti 'menggenggam mawar indah berduri yang melukai
tangan, padahal aromanya telah lama hilang'.
- Doa dan harapannya sangat tinggi yang jika dibandingkan dengan
kondisinya sekarang masih sangat dibawah 'kemungkinan'. Karena TUHAN tak
pernah menolak permintaan, DIA akan mengabulkan semuanya, SEMUANYA,
dengan satu syarat, yaitu 'Kepantasan'. Sederhananya, seorang anak kecil
akan sangat Sok ketika tiba-tiba diberi uang jutaan. Namun, akan sangat
bijak ketika uang itu didapat dari hasil Kesusah-payahannya menabung.
- Tuhan mempersiapkannya untuk sesuatu teramat penting yang dibutuhkan
oleh alam, oleh negara, oleh manusia, dan oleh apapun yang memang
ditakdirkan untuknya. Bahwa semua tekanan hidup, kesakitan, kegalauan,
dan penindasan yang diterimanya hanya untuk mengajarkannya semua
perasaan yang menyedihkan dan mengajarkannya kemampuan untuk menjadi
'Orang yang Mampu Menopang Beban Dunia'.
Padang, 26 Oktober 2014, With All of My Respect. RH ArKim
Seseorang pernah mengingatkan temannya :
"Kamu adalah pimpinan, harus bisa jaga imej, dan tunjukkan bahwa kamu
pimpinan. Jangan bertindak seperti anak yang masih remaja dan jangan
biarkan bawahanmu lupa bahwa kamu pimpinan."
Tahukah apa jawabannya?
"Maaf kawan...
Jika posisi pimpinan membuat saya harus menjaga jarak dengan siswa
saya, membuat saya harus selalu memasang label 'pimpinan' dalam setiap
gurau dan tawa, serta membuat sahabat-sahabat saya jadi segan dan ragu
saat bercanda, dengan senang hati saya akan membuang prediket
pimpinan...
Orang-orang yang menghargai saya sebagai sahabat,
sebagai saudara, sebagai rekan, dan sebagai keluarga, jauh lebih penting
dari pangkat dan posisi. Membuat mereka tertawa dan senang atas
kehadiran saya jauh lebih utama daripada membuat mereka harus
menundukkan kepala saat bertemu dengan saya...
Tidak ada pangkat
apapun yang menarik saya untuk dikejar, karena kepemimpinan bukanlah
Kebanggaan, Melainkan Tanggung Jawab. Tanggung Jawab besar yang sering
disalahartikan sebagai posisi, karena kepemimpinan tidak hanya
mengangkat, tapi juga membuatmu menjadi 'pelayan' untuk mereka...
Kawan...
Saya lebih suka hadir sebagai pencipta suasana riang daripada penimbul
kondisi kaku. Saya lebih suka mereka tersenyum dengan ikhlas walau tipis
daripada tertawa keras namun dipaksakan. Saya lebih suka duduk di kursi
kayu diantara mereka daripada menjauh dan duduk di sofa empuk
sendirian...
Tidak akan buruk hidup saya, selama meraka ada di
depan, disamping, dan dibelakang saya, dan tidak ada yang paling saya
khawatirkan selain Kesendirian karena rasa angkuh dan kebanggan akan
posisi kepemimpinan...
Terima kasih nasehatmu kawan, tapi saya tahu apa yang paling membuat saya bahagia..."
Padang, 16 September 2014
Terkadang,
wanita benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan.
Seringkali apa yang mereka katakan bukanlah yang ada dalam jiwanya, apa
yang mereka lakukan bukanlah yang mereka sukai, apa yang mereka pikirkan
bukanlah yang mereka cita-citakan. Dan ketika wanita mendapatkan yang
mereka katakan 'suka', kadang muncul rasa ketidakpuasan seolah-olah ada
kata-kata 'bukan ini yang aku mau.'
Dan dengan semua hal itu, semua wanita selalu meminta prianya untuk
memahami dan mengertikan apa yang sebenarnya mereka inginkan. Hingga tak
jarang kalimat 'kamu gak pernah mengerti aku' atau 'Ya udah, terserah'
terucap dari bibir mereka dengan wajah yang penuh pengharapan akan
dipahami.
Tidak akan ada pria yang tidak bingung, dan takkan
ada pria yang mengerti 100%. Namun juga, tidak akan ada pria yang sangat
mempesona dan memikat bagi wanita selain pria yang tetap bertahan dalam
sabar dan senyum terhadap keegoisan wanita yang seringkali menjadikan
prianya sasaran kekesalan.
Bukittinggi, 27 Agustus 2014
Wanita itu, luar biasa yah...
Mereka bertubuh lebih lemah dari pria, tapi tidak ada dan takkan ada
pria yang menolak mengakui pengaruh wanita dalam sukses dirinya.
Wanita itu, luar biasa yah...
Senyum kecil dan 3 butir air mata mereka saja sanggup mendinginkan
amarah meledak-ledak seorang pria dan mengubah ukiran kekesalan diwajah
pria menjadi sejuk.
Wanita itu, luar biasa yah...
Sanggup mengerjakan
pekerjaan paling membosankan sedetil mungkin yang paling anti
dikerjakan oleh pria yang terkenal pembosan, karena besarnya rasa
tanggung jawab mereka.
Wanita itu, luar biasa yah...
Semarah apapun mereka pada orang yang mereka sayangi, tetap saja tidak
ada kebencian dalam jiwa mereka. Dan hanya butuh satu kata 'maaf' dari
pria untuk memaafkan.
Wanita itu, luar biasa yah...
Satu
usapan kecil pada luka anak kecil yang menangis dan meraung, sudah cukup
untuk mengurangi tangisannya dan menenangkan hati si anak kecil.
Wanita itu, luar biasa yah...
Pendengar terbaik atas semua keluhan dan kegalauan orang lain yang
bahkan ikut menangis bersama-sama yang pastinya menyamankan si pengeluh.
Wanita itu, luar biasa yah...
Sayangnya kebanyakkan mereka tidak menyadari 'keluar biasaan' mereka...
Bukittinggi, 21 Agustus 2014
TUHAN... Sudah merdekakah kami?!
Kami punya segudang harta di tiap inci tanah yang sungguh jika dibagi
sama rata, takkan ada yang meminta-minta dijalanan dan takkan ada yang
merendahkan diri dihadapan dunia sebagai pembantu. Tapi yang makin kaya
justru orang asing.
TUHAN... Sudah merdekakah kami?!
Bangsa lain tetap bernafas yang dihembuskan oleh hutan di pulau kami, hingga jika itu hilang lenyap, seluruh dunia terancam mati. Tapi justru kami yang seolah-olah bergantung pada mereka.
TUHAN... Sudah merdekakah kami?!
Dengan segala hasil bumi dan laut yang menimbulkan kecemburuan dan
kedengkian bangsa lain, harusnya kami menjadi raja di dunia. Tapi kami
terjebak sebagai budak yang terpatri oleh konsumtifnya jiwa kami.
TUHAN... Sudah merdekakah kami?!
Begitu banyak orang-orang berhasil di negeri kami yang sungguh-sungguh
kami butuhkan sebagai pelopor, motivator, dan inspirator. Tapi kami
begitu bodohnya tidak menghargai mereka hingga mereka didamaikan oleh
negara lain yang akhirnya maju pesat.
TUHAN... Sudah merdekakah kami?!
Orang baik dan jujur masih teramat banyak dan selalu berani menentang
ketidakadilan. Tapi mereka dianggap kuno, dianggap perusak, dianggap
rendahan, dan bahkan disingkirkan.
TUHAN... Sudah merdekakah kami?!
Jika belum, TUHAN... Tolooong, merdekakan kami.
Bukittinggi, 17 Agustus 2014
Ada
perbedaan jelas, antara 'orang dewasa yang bersikap kekanak-kanakan'
dengan 'anak-anak yang kadang mencoba dewasa'. Dalam tawa, dalam senyum,
dan dalam kebagusan mood, kedua karakter hampir tak dapat dibedakan.
Karena wajar, kebahagiaan seringkali membuat orang berlebihan dalam
ekspresi.
Namun, perbedaan akan terlihat dalam galau, dalam tangis, dan dalam tekanan masalah. Sebab kedewasaan terlihat dari Kemampuan Mengendalikan Diri. Jadi, sebeda apa keduanya?!
<=> Dewasa tetaplah Dewasa, meski terkadang dia tertawa,
bercanda, berinteraksi layaknya seorang remaja, ABG, atau bahkan
anak-anak. Kedewasaan menimbulkan kebijaksanaan dan kemampuan
menyembunyikan kesakitan batin sehingga hampir tidak pernah ada yang
menyadarinya. Tidak ada 'pelampiasan kemarahan', tidak ada 'pencarian
kesalahan orang lain', dan tidak ada 'pengeluhan di dunia maya'.
<=>
<=> Anak-anak tetaplah anak-anak, meski sekuat
apapun dia menutup kekanak-kanakannya dengan busana dan make up. Dan itu
terpampang jelas dari kebiasaan menceritakan masalahnya seolah-olah
dirinya adalah pihak teraniaya, Melampiaskan kekesalan pada orang yang
sebenarnya tidak tahu apa-apa, dan meminta perhatian berlebih di media
sosial. <=>
Uniknya, Kedewasaan yang menimbulkan
kebijaksanaan memaksa dirinya selalu merasa bertanggung-jawab atas tiap
kondisi sosial yang ada di area penglihatan dan pendengarannya.
Sedangkan kekanak-kanakan menstimulasi diri selalu merasa hidup yang
dilaluinya lebih menyakitkan dan menderita dibanding masyarakat lain.
Bukittinggi, 5 Agustus 2014
Sebenarnya!!
Ketidaktegasan dan ketidakmauan memberi kejelasan pada orang yang
menunggu, sementara dia telah memastikan memberi seluruh hidupnya dan
masa depannya, seperti memberi sayap sedikit demi sedikit untuknya
hingga dia melayang dan mengarah pada lainnya, seperti mengikir jangkar
yang telah ditautkan hingga putus dan akhirnya terombang-ambing dan
menemukan pulau baru.
Tidak ada sedikitpun
hak untuk membenci orang yang pergi karena keragu-raguan padanya, dan
tidak ada sedikitpun hak untuk cemburu pada tempat dia mengikatkan diri.
Hanya PENYESALAN satu-satunya hak yang ada, penyesalan karena sekali
lagi telah membuang waktu, sekali lagi telah menjauhkan orang yang
pasti, sekali lagi mengecewakan diri, dan sekali lagi merasakan
keirian..
Bukittinggi, 18 Juli 2014