TUHAN... Sudah merdekakah kami?!
Kami punya segudang harta di tiap inci tanah yang sungguh jika dibagi
sama rata, takkan ada yang meminta-minta dijalanan dan takkan ada yang
merendahkan diri dihadapan dunia sebagai pembantu. Tapi yang makin kaya
justru orang asing.
TUHAN... Sudah merdekakah kami?!
Bangsa lain tetap bernafas yang dihembuskan oleh hutan di pulau kami, hingga jika itu hilang lenyap, seluruh dunia terancam mati. Tapi justru kami yang seolah-olah bergantung pada mereka.
TUHAN... Sudah merdekakah kami?!
Dengan segala hasil bumi dan laut yang menimbulkan kecemburuan dan
kedengkian bangsa lain, harusnya kami menjadi raja di dunia. Tapi kami
terjebak sebagai budak yang terpatri oleh konsumtifnya jiwa kami.
TUHAN... Sudah merdekakah kami?!
Begitu banyak orang-orang berhasil di negeri kami yang sungguh-sungguh
kami butuhkan sebagai pelopor, motivator, dan inspirator. Tapi kami
begitu bodohnya tidak menghargai mereka hingga mereka didamaikan oleh
negara lain yang akhirnya maju pesat.
TUHAN... Sudah merdekakah kami?!
Orang baik dan jujur masih teramat banyak dan selalu berani menentang
ketidakadilan. Tapi mereka dianggap kuno, dianggap perusak, dianggap
rendahan, dan bahkan disingkirkan.
TUHAN... Sudah merdekakah kami?!
Jika belum, TUHAN... Tolooong, merdekakan kami.
Bukittinggi, 17 Agustus 2014
Follow @rharkim
Tidak ada komentar:
Posting Komentar