Kamis, 18 September 2014

TUHAN, SUDAH MERDEKAKAH KAMI

TUHAN... Sudah merdekakah kami?!
Kami punya segudang harta di tiap inci tanah yang sungguh jika dibagi sama rata, takkan ada yang meminta-minta dijalanan dan takkan ada yang merendahkan diri dihadapan dunia sebagai pembantu. Tapi yang makin kaya justru orang asing.

TUHAN... Sudah merdekakah kami?!
Bangsa lain tetap bernafas yang dihembuskan oleh hutan di pulau kami, hingga jika itu hilang lenyap, seluruh dunia terancam mati. Tapi justru kami yang seolah-olah bergantung pada mereka.

TUHAN... Sudah merdekakah kami?!
Dengan segala hasil bumi dan laut yang menimbulkan kecemburuan dan kedengkian bangsa lain, harusnya kami menjadi raja di dunia. Tapi kami terjebak sebagai budak yang terpatri oleh konsumtifnya jiwa kami.

TUHAN... Sudah merdekakah kami?!
Begitu banyak orang-orang berhasil di negeri kami yang sungguh-sungguh kami butuhkan sebagai pelopor, motivator, dan inspirator. Tapi kami begitu bodohnya tidak menghargai mereka hingga mereka didamaikan oleh negara lain yang akhirnya maju pesat.

TUHAN... Sudah merdekakah kami?!
Orang baik dan jujur masih teramat banyak dan selalu berani menentang ketidakadilan. Tapi mereka dianggap kuno, dianggap perusak, dianggap rendahan, dan bahkan disingkirkan.

TUHAN... Sudah merdekakah kami?!
Jika belum, TUHAN... Tolooong, merdekakan kami.

Bukittinggi, 17 Agustus 2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar