Selasa, 10 Maret 2015

KE'ALIM'AN YANG MENIPU

Suatu hari, seorang pria berpakaian Relijius berjalan menuju warung melewati empat pemuda yang sedang bercanda-tertawa dan duduk di tepi jalan yang berpakaian kaos biasa dan bercelana pendek hingga selutut. Pria reliji itu tidak menyapa. Dia hanya mendengus kesal dan wajahnya terlihat tegas saat melewati satu demi satu para pemuda yang duduk. Dan hal itu terlihat oleh si bapak penjaga warung.

Si bapak tak mampu menahan gelitikan rasa penasarannya. Hingga begitu pria reliji itu duduk di bangku panjang dihadapannya, dia langsung bertanya :
Bapak : Saya lihat, kamu sangat tidak menyukai mereka.
Pria reliji : Benar pak. Lihat para pendosa itu! Berpakaian tidak sopan dan duduk di tepi jalan menikmati dunia, dan lupa akan akhirat.

Bapak itu terlihat bingung, dia memperbaiki posisi duduknya.

Bapak : Pendosa? Penikmat dunia? Seperti itu yang kamu pikirkan tentang mereka?
Pria reliji : Benar. Dan saya yakin bapak juga berpikir demikian.
Bapak itu tersenyum.
Bapak : Bisakah kamu jelaskan alasanmu mengatakan mereka seperti itu?
Pria reliji : Tentu saja. Coba kita nilai mereka, duduk di tepi jalan dan tertawa gembira dengan pakaian yang tak sopan. Menikmati dunia dan lupa dengan akhirat.
Bapak : Tak sopan? Mengapa tak sopan?
Pria reliji : Kaos oblong dengan celana pendek seperti itu. Dan itu dilarang agama.
Bapak : Lalu, maksud kamu dengan 'menikmati dunia'?
Pria reliji : Iyaaap. Tertawa dan bercanda dengan sesamanya. Sungguh perbuatan yang sia-sia. Padahal ada banyak kebaikan yang bisa mereka kerjakan diluar sana.

Bapak itu berpikir sejenak.

Bapak : Apakah mereka memperlihatkan aurat?
Pria reliji : (Memandang pemuda-pemuda itu sejenak) Tidak, mereka menutup auratnya.
Bapak : Bukankah itu berarti mereka tidak berdosa?
Pria reliji : (Terdiam sejenak)
Bapak : Apakah 'perbuatan sia-sia' berarti dosa?
Pria reliji : Bukan juga. Hanya saja, tidak bermanfaat.
Bapak : Memang tidak bermanfaat, tapi tetap bukan dosa.

Pria reliji itu terdiam beberapa saat, dan dia terlihat akan membantah.

Pria reliji : Lalu, bukankah sikap mereka itu jelas-jelas melupakan akhirat?

Bapak penjaga warung tertawa kecil.

Bapak : Biar saya jelaskan padamu, anak muda. Kamu lihat pemuda berkaos merah itu? Dia adalah penggalang dana utama untuk diberikan pada panti asuhan yang berada di ujung desa. Lalu pemuda dengan topi hitam ala sutradara film itu hanyalah anak yatim yang berkeja seharian diladang untuk membantu sekolah adik-adiknya dan biaya pengobatan ibunya. Lalu ada pemuda dengan celana pendek kotak-kotak itu, adalah seorang guru SD dhuafa yang sama sekali tidak pernah menerima bayaran atas pekerjaannya. Sedangkan pemuda yang satunya lagi, dia anak saya yang setiap tengah malam terbangun untuk sholat tahajud dan mengaji hingga subuh.

Pria reliji itu tidak mampu menahan rasa ketidakpercayaannya, dan hal itu terbaca dari raut wajahnya. Bapak penjaga warung kembali berkata,

Bapak : Anak muda, kamu tidak sadar bahwa Kealiman yang kamu miliki Telah Menipumu. Membuatmu merasa lebih dekat dengan Tuhan hingga menambah-nambah dan mempersulit hukum agama yang sebenarnya tidak memberatkan siapapun. Dan yang paling membahayakan adalah penilaianmu yang 'Mendosakan' orang lain yang tidak kamu kenal, yang berarti telah mendahului Tuhan. Baik kamu, saya, bahkan seorang ulama sekalipun tidak memiliki hak menyebut seorang itu 'Pendosa' sebelum memiliki bukti dan saksi yang benar.

Pria reliji itu hanya bisa menunduk dan merasa sangat bersalah.

Pria reliji : Sungguh saya sangat malu pada diri saya sendiri, pak.
Bapak : Malulah pada Tuhan, karena kamu telah mendahului penilaiannya. Dan satu lagi, anak muda. Bahwa
==Seorang Pendosa yang menyadari dosanya dan menyesal akan itu, lebih baik dari seorang yang taat dan merasa sombong akan ketaatannya==




Tidak ada komentar:

Posting Komentar