KRITIKAN UNTUK PENDIDIKAN INDONESIA
==================================
__ RH Arkim __
Kurikulum Indonesia telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga yang dulu dimiliki oleh generasi lama. Yaitu kemampuan mengolah bakat siswa sejak masuk SMP agar mereka tahu akan menjadi apa, ataupun punya profesi yang bagaimana nantinya. Padahal berpuluh-puluh tahun yang lalu, para sarjana Indonesia mampu mendunia dan seringkali menjadi buah bibir masyarakat internasional. Namun sekarang, Indonesia hampir menjadi negara yang duduk selonjoran dengan tangan menengadah menunggu recehan negara lain.
Hampir setiap hari saya dihadapkan pada pertanyaan yang sama oleh hampir seluruh siswa saya,
"Dimana bagusnya saya kuliah bang?"
Bukankah itu aneh? Jika mereka saja tidak tahu akan kuliah dimana ataupun berprofesi apa, bagaimana saya bisa tahu? Saya bukan orang tua mereka yang merawat sejak bayi, ataupun cenayang yang mampu membuka cakrawala masa depan mereka. Dan itu membuat saya sering bingung dan kasihan karena saya sendiri hanya bisa mengarahkan, bukan memastikan.
Dan ini adalah beberapa hal yang menjadi kritikan besar saya untuk pendidikan Indonesia.
1. Pemerintah masih berpendapat bahwa jam belajar yang banyak tetap lebih baik dibanding kualitas pengajaran. Seolah-olah pemerintah menganggap makan nasi putih tiga piring sampai kenyang lebih baik dibandingkan nasi setengah piring yang ditambah lauk-pauk penuh gizi.
2. Penghargaan pada para guru masih minim yang menyebabkan banyak guru harus menambah penghasilan lain sehingga fokusnya terhadap pendidikan jadi berkurang.
3. Terlalu banyak memberikan perhatian pada pelajaran yang diUNkan sehingga mengabaikan aspek karakter seperti psikoligi, kreatifitas, budi pekerti, dan reliji.
4. Sangat sedikit memberikan informasi tentang perkuliahan ataupun keprofesian.
5. Kurikulum baru yang seolah-olah memaksa siswa mengerjakan tugas hingga puluhan soal tiap minggunya yang mengakibatkan siswa tak sempat mengembangkan hobi dan bakat.
6. Standar masuk perguruan tinggi masih berdasarkan nilai ujian dan rapor, bukan dari nilai gabungan antara IQ dan EQ.
7. Beberapa sekolah yang memiliki biaya pendidikan berbeda-beda dengan sarana/prasarana yang juga berbeda-beda sehingga sering muncul sistem kasta antar siswa.
8. Menyamakan standar ujian meski mengetahui bahwa setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda.
9. Pola pikir siswa yang tidak diarahkan bahwa program IPA ataupun IPS sama baiknya sesuai dengan minat. Agar paradigma masyarakat yang menganggap program IPS adalah untuk anak yang nilai rendah bisa terhapus.
10. Beberapa guru yang bersikap bukan sebagai pendidik, melainkan sebagai pelatih. (Baca selengkapnya di http://rharkim.blogspot.co.id/2015/02/dosa-sebagian-para-guru.html)
Dan masih banyak hal lain yang harus segera dibenahi sebelum generasi saat ini hanya akan menjadi generasi tanpa kreatifitas ataupun generasi penakut yang khawatir kecerdasan dan bakatnya hilang karena sistem yang kurang tepat sasaran.
With all of my respect, RH Arkim.
Follow @rharkim
Tidak ada komentar:
Posting Komentar