SETIAP ANAK TERLAHIR DENGAN BAKAT
Aku takkan lupa tentang seorang guru yang mengajarkan aku bukan dengan ilmu tinggi yang dia miliki ataupun dengan penggaris kayu panjang yang kadang digunakan sebagai pengganti pentungan.
Dia selalu memulai pelajaran dengan doa. Bukan doa hafalan yang dilafalkan dengan nyaring, tapi doa yang dibaca dalam hati. Aku tak lupa kalimatnya saat memimpin doa, "Mudah-mudahan yang kita pelajari ini tidak lupa pas ujian". Dia tak menyuruh kami untuk berdoa panjang lebar. Cukuplah dengan niat 'tidak lupa pas ujian’. Sederhana memang, namun itu menjadikan kami tulus saat berdoa.
Dia tak pernah menghentikan kreasi dan imajinasi kami yang seringkali aneh, nyeleneh, dan membuat kami tidak fokus memperhatikannya. Yang dilakukannya adalah mengacungkan jempol saat kami sibuk menggambar atau mengisi TTS, dan kadang ikut nimbrung ketika kami meribut. Setelah itu dia akan berkata, ’itu sangat menarik, tapi sebelum itu coba perhatikan papan tulis dulu’. Hal kecil itu membuat kami merasa dihargai hingga kamipun segan jika tidak menghargainya. Tanpa sadar, fokus kami kembali ke pelajarannya.
Aku dan kawan-kawan adalah tipe orang yang malas mencatat dan mengerjakan latihan. Tapi dia justru berkata ’yang bisa mengerjakan soal ini tanpa menulis, PR dikurangi 50%'. Tantangan itu mengajarkanku menghitung angka dengan cepat tanpa harus menulis dan membuat kalkulator yang kubeli mahal jadi sering menganggur.
Dia tidak pemarah. Kekecewaannya pada kelakuan tak sopan kami seringkali ditunjukkan dengan duduk memperhatikan seisi kelas tanpa ekspresi, dan itu dilakukan sampai kami merasa bersalah, diam, juga sekaligus memperbaiki sikap. Barulah dia berdiri, melanjutkan pelajaran seakan-akan tidak ada yang terjadi sebelumnya.
Dia tidak pemaksa kehendak. Tak pernah sekalipun dia memaksa kami menggunakan cara dia untuk menghitung angka. Dia bahkan mengapresiasi siapapun yang berhasil menemukan trik dan solusi menghapal atau menghitung cepat dengan candaan, "Cara kamu itu keren juga. Nanti saya bagi ke kelas lain biar jadi ilmu yang bermanfaat kalau-kalau nanti kamu banyak dosa". Dan dia memang membaginya ke orang lain dengan terus mengatakan nama penemunya.
Saat kami ragu dengan rencana kuliah, dia berkata "Setiap orang terlahir dengan bakat yang berbeda-beda. Dan bakat itu sebenarnya sering dilampiaskan dalam bentuk permainan, bacaan, obrolan, dan bahkan kelakuan. Anak yang suka memperhatikan alat-alat punya bakat engineer. Anak yang suka mikir menjual bakwan emaknya yang enak punya bakat bisnis. Anak yang suka maen game bangun bangungan punya bakat arsitek. Anak yang suka ngelawak punya bakat humor. Anak yang suka mengomentari pakaian orang punya bakat fashion. Yang harus dilakukan hanyalah temukan apa yang paling suka dilakukan dan hampir tak pernah bosan untuk itu selama hal itu baik dan menyukseskan kalian nantinya."
Dan dia sering berkata,
"Tuhan itu Maha Besar dan Maha Kaya. Sebesar apapun mintamu, dan sebanyak apapun keinginanmu, itu masih teramat kecil dan sangat sedikit bagiNYA. Jadi berharaplah yang luar biasa untuk masa depan."
"Tuhan itu Maha Besar dan Maha Kaya. Sebesar apapun mintamu, dan sebanyak apapun keinginanmu, itu masih teramat kecil dan sangat sedikit bagiNYA. Jadi berharaplah yang luar biasa untuk masa depan."
Bukan dengan ilmu dia mengajarkan kami, melainkan dengan sikap.
__ RH Arkim __
Follow @rharkim
Tidak ada komentar:
Posting Komentar