Kamis, 17 Juli 2014

LAGU GALAU, DAN PEMBENARAN PADA KESALAHAN

Seringkali saya melarang orang-orang dekat saya mendengar lagu galau saat jiwa mereka bersedih. Saya katakan ’Mendengar lagu galau saat sedih seperti menyiram bensin ke puing-puing kebakaran yang apinya hampir padam. Apinya kembali membara dan membakar untuk kesekian kalinya.’

Sederhananya, menghayati lagu galau seolah-olah mencari alasan yang tepat untuk tetap menangis, dan mencari pembenaran untuk kesalahan dan kebodohan yang secara nyata telah melukai perasaan. Dan yang terburuk, lagu galau bahkan bisa mempertegas keinginan untuk merusak diri, termasuk bunuh diri.

Apa yang bisa diharapkan dari lagu itu?? Belum tentu para pujangga cinta mencipta lagu galau karena mereka memang sedih. Kebanyakkan lagu itu diciptakan untuk meraih popularitas, atau sekedar hobby. Lalu, mengapa para pendengarnya merasa ’pujangga cinta’ itu membela mereka?? Suatu ironi yang buruk.

Kebanyakkan orang merasa sudah sangat mengerti cinta sejati hanya karena menonton drama, mendengar lagu cinta, atau membaca novel romantis. Padahal cinta sejati hanya bisa diketahui setelah Pernah Bahagia dan Pernah Menderita, Pernah Terangkat dan Pernah Terpuruk, Pernah Tertawa Keras dan Pernah Menangis Isak, Pernah Memiliki dan Pernah kehilangan, hingga Pernah Merasa Sangat Hidup dan Pernah Merasa Ingin Mati. Dan orang-orang yang telah berada pada titik ini, tidak akan pernah berlaku cengeng dan tidak akan pernah membagi penderitaan dalam bentuk lagu ataupun sajak.

Padang Panjang, 6 April 2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar