Seringkali
saya melarang orang-orang dekat saya mendengar lagu galau saat jiwa
mereka bersedih. Saya katakan ’Mendengar lagu galau saat sedih seperti
menyiram bensin ke puing-puing kebakaran yang apinya hampir padam.
Apinya kembali membara dan membakar untuk kesekian kalinya.’
Sederhananya, menghayati lagu galau seolah-olah mencari alasan yang tepat untuk tetap menangis, dan mencari pembenaran untuk
kesalahan dan kebodohan yang secara nyata telah melukai perasaan. Dan
yang terburuk, lagu galau bahkan bisa mempertegas keinginan untuk
merusak diri, termasuk bunuh diri.
Apa yang bisa diharapkan
dari lagu itu?? Belum tentu para pujangga cinta mencipta lagu galau
karena mereka memang sedih. Kebanyakkan lagu itu diciptakan untuk meraih
popularitas, atau sekedar hobby. Lalu, mengapa para pendengarnya merasa
’pujangga cinta’ itu membela mereka?? Suatu ironi yang buruk.
Kebanyakkan orang merasa sudah sangat mengerti cinta sejati hanya karena
menonton drama, mendengar lagu cinta, atau membaca novel romantis.
Padahal cinta sejati hanya bisa diketahui setelah Pernah Bahagia dan
Pernah Menderita, Pernah Terangkat dan Pernah Terpuruk, Pernah Tertawa
Keras dan Pernah Menangis Isak, Pernah Memiliki dan Pernah kehilangan,
hingga Pernah Merasa Sangat Hidup dan Pernah Merasa Ingin Mati. Dan
orang-orang yang telah berada pada titik ini, tidak akan pernah berlaku
cengeng dan tidak akan pernah membagi penderitaan dalam bentuk lagu
ataupun sajak.
Padang Panjang, 6 April 2014
Follow @rharkim
Tidak ada komentar:
Posting Komentar